Anjangsana Sosial: motivasi
Tampilkan postingan dengan label motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label motivasi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 21 Oktober 2021

SALAH SATU TIM ANJANGSANA SOSIAL BERHASIL LOLOS SELEKSI PENDANAAN P2MD 2021
Oktober 21, 20210 Comments
Program Pemberdayaan Masyarakat Desa (P2MD) adalah kegiatan pemberdayaan masyarakat yang dilakukan oleh mahasiswa melalui Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), Himaprodi dan atau Badan Eksekutif Mahasiswa. P2MD bertujuan untuk menumbuhkan rasa peduli Mahasiswa dan berkontribusi kepada masyarakat desa agar terbangun desa binaan yang aktif, mandiri, berwirausaha, dan sejahtera. Dengan kata lain program ini juga bertujuan untuk memfasilitasi pembentukan kecakapan hidup (life skill) dan karakter positif mahasiswa sekaligus membawa kemanfaatan kampus ke dalam masyarakat desa.

P2MD tahun 2021 ini merupakan program Direktorat Pendidikan Tinggi Vokasi dan Profesi, Direktorat Jendral Pendidikan Vokasi, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Kelompok mahasiswa yang lolos melewati serangkaian tahapan nantinya akan diberikan dana oleh pemerintah untuk melakukan pemberdayaan di desa tujuan.

Tiga Tim dari Politeknik Negeri Jakarta berhasil lolos tahap pendanaan dari pemerintah, dalam hal ini Direktorat Pendidikan Tinggi Vokasi dan Profesi, Direktorat Jendral Pendidikan Vokasi. Dari 3 tim tersebut salah satunya berasal dari UKM ANSOS yang terdiri dari Ghifar Fathul Huda (Ketua Pelaksana Tim P2MD UKM ANSOS), Melina Handayani, Karlina Anggraeni, Fidyah Ayu Sesaria, Novantio Ragiel Fadrian, Wilujeng Tri Wahyuningsih, Ilhan Aulia Muzadin, Ananda Genta Pitaloka, Muhammad Reza Pahlevi, dan Muhammad Dikiansyah Alwan.


Untuk sampai lolos pada tahap pendanaan, Tim P2MD UKM ANSOS harus mempersiapkan proposal yang akan diajukan. Dalam penyusunan proposal, mereka melakukan survei langsung ke kampung target, Kampung Mulyasari yang berada di wilayah Desa Sukamulya, Kecamatan Sukamakmur, Kabupaten Bogor. Hasil dari survei yang didapatkan adalah Kampung Mulyasari memiliki potensi sumber daya alam yang berlimpah, salah satunya kopi. Masyarakat Kampung Mulyasari masih minim dalam mengelola sumber daya kopi yang mereka miliki. Mereka hanya memanfaatkan cherry kopi untuk dijual ke penggepul. Sedangkan kulit kopi dibuang begitu saja oleh masyarakat karena bagi mereka limbah kulit kopi sudah tidak memiliki nilai jual lagi.

Melihat dari permasalahan tersebut, Tim P2MD UKM ANSOS menggusung judul “Pemanfaatan Limbah Kulit Kopi Menjadi Teh Cascara Guna Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat Kampung Mulyasari Sebagai Kampung Tangguh."  Mereka didampingi oleh oleh Bapak Syan Rosyid Adiwinata, S.E., M.Han selaku dosen pembimbing untuk diberikan berbagai masukan, bimbingan, arahan, kritik dan saran agar dapat maksimal dalam melakukan rangkaian program P2MD.


Tim P2MD UKM ANSOS berhasil menyelesaikan dan mengirimkan proposal ke pihak penyelenggara Program P2MD. Tahap selanjutnya yaitu Presentasi Proposal Program Pemberdayaan Masyarakat Desa (P2MD) Tahun 2021. Dengan kerja keras dan semangat yang digelorakan, mereka lolos tahap II dan bersaing dengan perwakilan Perguruan Tinggi se-Nasional. Walau sedikit mengalami kendala teknis selama presentasi, Tim P2MD UKM ANSOS mampu melewatinya dan dinyatakan lolos tahapan akhir, Tahap Pendanaan.

Setelah dinyatakan lolos tahap pendanaan dari Pemerintah, Tim P2MD UKM ANSOS langsung menyusun dan menjalankan program kerja yang sudah dirancang, yaitu memanfaatkan limbah kulit kopi menjadi teh cascara agar memiliki nilai jual yang tinggi dan dapat menyejahterakan masyarakat di Kampung Mulyasari. Tim P2MD UKM ANSOS berharap program ini dapat menjadi program berkelanjutan untuk tahun-tahun berikutnya.


TIM CASCARA

Bisa Dari Desa, Mulyasari Kampung Tangguh

 

Penulis         : Wilujeng Tri Wahyuningsih

Penyunting   :  Ananda Genta Pitaloka

Dokumentasi :  Tim P2MD UKM ANSOS

Reading Time:

Sabtu, 19 Juni 2021

Kiat-kiat Berprestasi di Masa Pandemi
Juni 19, 20210 Comments

Hingga saat ini Indonesia masih diserang virus Corona atau Covid-19. Hal ini yang mengharuskan sekolah maupun perguruan tinggi melakukan pembelajaran jarak jauh dari rumah masing-masing secara daring. Berbulan-bulan kegiatan ini dilakukan tentu menimbulkan berbagai dampak bagi peserta didik, seperti muncul rasa bosan, susah berkonsetrasi, lelah, serta malas yang berujung tidak mengerti materi pelajaran. Oleh karena itu, berikut kiat-kiat yang dapat dilakukan oleh pelajar maupun mahasiswa supaya kegiatan PJJ bisa berjalan lebih efektif.


1. Tentukan Tempat Khusus untuk Belajar

Belajar di rumah seringkali terganggu oleh berbagai aktivitas lain apalagi jika dilakukan di tempat tidur, dapur, ataupun ruang keluarga. Demi menghindari distraksi dan kantuk, carilah tempat yang dikhususkan untuk belajar. Bisa dimana saja asal bukan di kasur, meja makan, atau sofa depan televisi.


2. Buat Diri Anda Nyaman dengan Tempat Belajar

Tempat yang dikhususkan untuk belajar haruslah nyaman. Rapikan dan beri sedikit pernak-pernik agar tidak cepat penat.


3. Tulis Rutinitas Harian untuk Persiapan, Belajar, dan Istirahat

Rutinitas setiap harinya harus dicatat dan ditentukan dengan jelas agar tidak saling mengganggu satu sama lain. Hal ini dilakukan supaya rutinitas untuk belajar dan beristirahat lebih terjadwal.


4. Buat Target Belajar dan Cobalah Lebih Aktif

Agar PJJ berjalan efektif, mulailah dengan menanyakan diri sendiri, 'Apa yang mau didapatkan dari setiap pelajaran?'. Hal ini bisa mendorong kamu untuk menentukan target pribadi untuk setiap bulan, pekan, bahkan harian sehingga pelajaran tetap dapat dipahami.


5. Belajar di Waktu Belajar, Bermain di Waktu Istirahat

'Jangan sampai belajar mengganggu waktu bermain'. Ungkapan ini harus Anda jadikan patokan agar target PJJ bisa tercapai tanpa harus menekan diri sendiri.


6. Hindari Multitasking

Mengerjakan banyak hal dalam satu waktu adalah hal yang patut dihindari karena sangat membebani otak dan tubuh. Sebaiknya focus dan selesaikan satu hal terlebih dahulu baru berpindah ke kegiatan lainnya.


7. Tidur dengan Nyenyak di Malam Hari

Tidur malam 7-8 jam adalah kegiatan yang penting agar tubuh selalu segar dan kamu tidak merasa kelelahan yang akan memicu depresi. Sebisa mungkin tidur sebelum larut malam supaya mendapat istarahat yang cukup.


8. Jangan Lupa Konsumsi Makanan Bergizi

Makanan bergizi memiliki pengaruh terhadap kesehatan. Pilihlah makanan bergizi baik supaya tubuh sehat dan tidak mudah lesu.


9. Jangan Lupa Berinteraksi dengan Teman dan Keluarga

Untuk menghilangkan stres dan mencari bantuan dalam PJJ, rajinlah berkontak dengan kawan-kawan satu kelas, satu geng, ataupun satu komunitas. Hal ini dilakukan untuk menekan tingkat stress yang bisa muncul saat terlalu sibuk belajar.


10. Jangan Lupa Olahraga

Olahraga wajib dilakukan agar tubuh terasa fit dan segar sehingga nyaman menjalani hari-hari di rumah. Selain itu, olah raga juga menghindarkan depresi. Lakukan aktivitas fisik yang menyenangkan, cari hal yang tidak memberatkan agar rutinitas olah raga tetap berlanjut terus.


11. Belajar dengan teman

Belajar bukanlah kegiatan yang harus dilakukan sendirian. Agar belajar lebih seru, kamu bisa memanfaatkan fasilitas yang dengan mudah bisa kita akses. Selain belajar menjadi asik dan tidak membosankan, kita akan mendapat ilmu tambahan yang mungkin kita enggak ngeh saat guru atau dosen menjelaskan.


12. Mendengarkan musik

Musik dapat meningkatkan kadar dopamin dan neutransmitter yang meningkatkan perasaan bahagia dan gembira. Beberapa penelitian menemukan fakta bahwa kita akan lebih cepat memecahkan soal pelajaran saat kita berada dalam kondisi hati yang bahagia. Musik pun dapat membantu mengatasi stres dan kecemasan karena musik membantu mengontrol hormon tubuh yang berperan atas perasaan stres dan kecemasan.



Itulah kiat-kiat yang bisa dilakukan pelajar dan mahasiswa dikala PJJ dari rumah. Dengan melakukan kiat-kiat diatas, diharapkan para pelajar dan mahasiswa bisa tetap enjoy dan efektif belajar meskipun harus beradaptasi dalam masa pandemi saat ini. 





Penulis : Meida Aminatu Zahra

Penyunting : Ananda Genta Pitaloka

 

 

 



Reading Time:

Selasa, 18 Mei 2021

Kartini Masa Kini Mendongeng Kepada Anak
Mei 18, 20210 Comments

Seperti yang kita ketahui, pada tanggal 21 April secara nasional kita bersukacita memperingati Hari Kartini. Hari kelahiran dari sosok wanita pemberani yang membuktikan bahwa perempuan memiliki hak yang setara dengan laki-laki dan mampu menghilangkan adanya ketimpangan sosial antara perempuan dan laki-laki pada saat itu. Saat di mana perempuan tidak memiliki kebebasan dalam menentukan pilihan dalam kehidupannya dan selalu terkekang oleh adanya mindset bahwa laki-laki lebih baik dibandingkan perempuan. 


Kartini ingin menunjukkan bahwa perempuan tidak hanya ‘konco wingking’, maksudnya perempuan bisa berperan lebih dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, terutama di bidang pendidikan. Perempuan bisa menentukan pilihan hidupnya tanpa paksaan orang lain, terutama orang tua dan perempuan juga bisa menempuh pendidikan setinggi-tingginya. Karena pendidikan dan perempuan merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dihindari sehingga antara kedua aspek tersebut harus saling melengkapi.


Pendidikan merupakan faktor yang sangat berpengaruh dalam memajukan calon penerus bangsa. Tanggung jawab ini bukan hanya dipikul oleh profesi seorang guru, pengajar ataupun pendidik namun semua lapisan masyarakat harus turut adil dalam mencerdaskan generasi selanjutnya.


Di era modern ini, sudah banyak kegiatan yang berorientasi pada kerelawanan atau volunteer. Salah satunya yaitu komunitas Rumah Dongeng Pelangi. Rumah Dongeng Pelangi adalah sebuah komunitas penggiat dongeng yang berdiri sejak tahun 2010, dipelopori oleh seorang perempuan hebat bernama Emmanuella Mila atau biasa dipanggil Mila. Rumah Dongeng Pelangi berlokasi di Taman Galaxi, Bekasi, Jawa Barat yang terdiri dari orang-orang dengan latar belakang profesi berbeda yang peduli dengan pendidikan anak melalui dongeng karakter. 


Emmanuelle Mila, pendiri Rumah Dongeng Pelangi


Mila melihat bahwa mendongeng bisa membuat anak lebih cepat berbicara dan memiliki hubungan yang dekat dengan orang tua. Kecintaannya terhadap dongeng dan kepeduliannya terhadap pendidikan anak kaum marginal, mendorong Mila untuk mendirikan Rumah Dongeng Pelangi. Dia ingin mendongeng dapat digunakan sebagai metode pendidikan anak dan membangun karakter anak. 


Perbedaan yang terlihat pada tumbuh kembang anak yang sering dibacakan dongeng dan anak yang jarang mendengar dongeng adalah anak yang sering mendengar dongeng akan memiliki kosakata dan bahasa yang jauh lebih beragam sehingga kemampuan komunikasi mereka jauh lebih baik. Pada saat mendongengkan anak, daya khayal anak menjadi lebih imajinatif dan kreatif apalagi pada saat masa keemasaan di usia 1000 hari pertama (Golden age).


Relawan dan anak kecil Rumah Dongeng Pelangi


Saat ini, Rumah Dongeng Pelangi masih aktif berkegiatan dengan total relawan mencapai 120-an. Meskipun kegiatan ini sedikit terkendala saat pandemi, namun tidak melunturkan semangat Mila dan teman-teman relawan di Rumah Dongeng Pelangi untuk terus berbagi dan melakukan kegiatan mendongeng secara virtual dengan aplikasi video conference seperti Zoom dan Google Meet ataupun Youtube.

Tak hanya dongeng saja, Mila dan para relawan Rumah Dongeng Pelangi melakukan pendampingan untuk Guru PAUD prasejahtera sejak 5 tahun lalu. Rumah Dongeng Pelangi mengajarkan guru-guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) untuk bisa mendongeng berbagai ragam cerita mulai dari cerita rakyat, fabel, hingga tematik seperti kehidupan di sekitar kita. Kegiatan pendampingan inilah yang sering dijadikan sebagai program CSR dari para sponsor Rumah Dongeng Pelangi.


Dalam wawancara dengan fimela.com, Mila menyampaikan pesan untuk perempuan hebat lainnya di luar sana, “Perempuan Indonesia adalah perempuan yang luar biasa memiliki kehebatan baik yang berkarya di rumah, freelancer, bekerja di kantor atau apa pun dan menjadi berkat sebagai makhluk yang luar biasa. Perempuan juga adalah ibu dan pendoa yang baik untuk keluarga, partner, dan teman. Jadi selalu bersyukur.” tuturnya.


Sosok Mila menjadi salah satu contoh wanita hebat di era industri 4.0 yang mampu menyeimbangkan antara kehidupannya sebagai ibu rumah tangga dan meneruskan perjuangan RA Kartini dalam memajukan pendidikan anak di Indonesia. Perjuangan dan pengorbanannya patut kita apresiasi dan banggakan karena telah membuktikan bahwa perempuan bisa mengajak dan membawa perubahan pada lingkungan sekitarnya. Selain itu, Mila memiliki tujuan yang sangat mulia yaitu membantu mencerdasakan calon penerus generasi bangsa terlebih kepada anak-anak kaum marginal yang mungkin tidak memiliki kesempatan mengenyam pendidikan yang merupakan pondasi dasar dalam kehidupan.




Penulis : Afifah Az Zahra

Penyunting : Ananda Genta Pitaloka



Reading Time:

Rabu, 24 Februari 2021

Anjangsana Sosial road to Desa Mulyasari
Februari 24, 2021 2 Comments

 


Matahari tak pernah memilih siapa yang harus diberikan sinar. Mari kita coba teladani itu, pahamilah perbedaan dan hargai siapa pun dia.


Tak terasa, pandemi yang memilukan ini sudah berlangsung lebih dari satu tahun lamanya. Rasa awas, rindu, khawatir, dan bosan, berpadu menjadi satu. Tak sedikit dari kita yang harus merelakan waktu, perasaan, dan tenaga demi tetap berjuang dalam pandemi yang melanda bumi ini. 


Terpisah dari yang tersayang, kerabat, atau kenalan membuat kebutuhan sosial jadi sedikit terganggu kestabilannya. Namun, pandemi yang belum juga berakhir ini, tidak menyurutkan semangat Anjangsana Sosial untuk tetap menjalin dan merajut kembali tali silaturahmi kapanpun dan dimanapun, tentunya, dengan tetap mematuhi protokol kesehatan yang berlaku. 


Acara silaturahmi kali ini, Anjangsana Sosial kembali menyinggahi Desa Mulyasari di ketinggian 930 Mdpl. Penasaran dengan keseruan dan keramahan penduduk Desa Mulyasari, yuk simak cerita berikut.



Desa ini berada di wilayah Sukamulya, Sukamakmur, Bogor, Jawa Barat. Desa Mulyasari sebenarnya masih mudah dijangkau dari perkotaan, namun masih jarang yang mengetahui keberadaannya karena terletak di sekitar persawahan dan bukit-bukit.


Berbekalkan semangat untuk melihat keramahan penduduk disana, kami memulai perjalanan dengan do'a dan tagline Anjangsana Sosial "Salam ceria dunia pendidikan Indonesia."  


Untuk mencapai lokasi desa Mulyasari, kami harus melewati rintangan yang cukup menegangkan hati, seperti bebatuan, jalan yang licin, dan jurang yang lumayan mengerikan. Namun, hal tersebut tidak mematahkan semangat kami untuk terus melangkah. Sepanjang perjalanan, banyak sekali hal yang dapat dipelajari dari alam dan penduduk sekitar.



Walaupun kami sempat beberapa kali mengalami kendala motor yang mogok dan jatuh di tengah jalan, kami tetap melanjutkan perjalanan sembari terus bersyukur dan menikmati indahnya pemandangan alam. 


Setelah bertarung dengan perasaan lapar, lelah, dan gundah, akhirnya kami sampai di Desa Mulyasari yang asri. Hiruk pikuk perkotaan, tidak lagi dapat kami dengar. Hanya terdengar suara gemerisik dedaunan dan sapaan serta salam dari para penduduk desa.


Kami bertemu dengan tokoh masyarakat yang dihormati di Desa Mulyasari, Abi panggilannya. Canda tawa, serta perbincangan hangat menambah semangat untuk bertemu dengan adik-adik di Pesantren Desa Mulyasari. 


Kami menyapa, bercanda tawa, dan berbagi apa yang bisa kami beri kepada sebagian masyarakat sekitar, khususnya adik-adik. Senyuman dan tawa bahagia mereka, membawa angin sejuk di tengah pandemi yang melanda dunia ini. Diatas sana, Desa Mulyasari, terdapat anak-anak harapan dan penerus bangsa yang tengah tumbuh dan berkembang. 



Sembari berkeliling, tak henti-hentinya kami bersyukur, bahwa meski pandemi melanda, setidaknya masih ada generasi bangsa yang tetap semangat menimba ilmu dengan saling membantu dan gotong-royong.


Tidak terasa waktu telah berlalu, kami terpaksa meninggalkan Desa Mulyasari dengan senyuman dan diiringi dengan do'a. Semoga Desa Mulyasari tetap terjaga keasriannya dan terus menghasilkan anak-anak yang dapat berguna dan berbakti dikemudian hari. 


Sampai disini, Anjangsana Sosial menarik langkahnya kembali untuk tetap dan terus, tanpa henti, memperjuangkan kesamarataan pendidikan di Indonesia. 


Anjangsana Sosial 

Salam Ceria Dunia Pendidikan Indonesia






Dokumentasi : Anisa Syifa Sauqi

Penulis : Anisa Syifa Sauqi

Penyunting : Ananda Genta Pitaloka

Reading Time:

Kamis, 10 September 2020

Menjadi Milenial yang Merdeka
September 10, 20200 Comments

“Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri,”

75 tahun sudah Indonesia merdeka, melalui berbagai perjalanan di setiap tahunnya. Hingga kini Indonesia berada di era yang memudahkan kita mendapatkan pengetahuan, misalnya dalam hal teknologi. 

Sadar atau tidak saat ini semuanya benar-benar sudah berubah. Saat ini generasi kita tiba pada kehidupan yang mengandalkan kemudahan dan kecanggihan teknologi. 

Namun, tak dipungkiri bawa teknologi juga membuat beberapa dari generasi kita saat ini kecanduan dan tak sadar bahwa perjuangannya ada dalam genggaman tangannya sendiri. Harus kita sadari bahwa tantangan generasi kita bukan tentang bagaimana merebut kemerdekaan bangsa, tapi bagaimana tetap bersama-sama untuk mempersatukan dan menjaga keutuhan bangsa ini. 

Para pahlawan pada zamannya sudah berjuang dengan segenap tumpah darahnya untuk melawan penjajah demi kemerdekaan Indonesia, saat ini harusnya kita yang mempertahankan kemerdekaan yang sudah diperjuangakan para pahlawan. 

Namun, memang kenyataannya semua itu tak mudah. Mengapa? karena banyak faktor yang mempengaruhi generasi kita dalam menjaga keutuhan bangsa ini. 

Salah satu yang berdampak cukup besar ialah "Teknologi". Yaa... Selain manfaatnya yang banyak dan memudahkan hidup kita, teknologi ini ternyata bisa memiliki pengaruh buruk jika kita tidak bijaksana dalam memanfaatkannya. 

Misalnya, teknologi akan jadi sia-sia jika keseharian generasi saat ini hanya scrolling Instagram, Whatsapp, Youtube, atau aplikasi lain tanpa arah dan tujuan. Apalagi jika terpancing dengan berita-berita hoax, gosip semata, atau bahkan saling menebar ujaran kebencian. 

Itulah yang membuat miris dan menjadi tantangan generasi sekarang. Namun, itu semua kembali lagi pada diri kita pribadi. Kedewasaan diri akan menuntun kita pada pilihan yang baik dan bijaksana. Sehingga kita bisa "merdeka" dengan genggaman kita sendiri. 

 Menerapkan 3C Untuk Muda-Mudi 

1. Creative 

 Sebagai wujud juang mempertahankan kemerdekaan, kita sebagai generasi masa kini yang akrab dengan teknologi, bisa menerapkan 3C dalam diri kita, yaitu Creative, Connected, dan Collaborative. 

Creative, merupakan bagian dar "3 C" yang penting, yang menjadi keunggulan dan perlu dilatih oleh generasi kita. Menjadi sosok yang kreatif berarti kita menjadi sosok yang suka dengan hal-hal baru, menemukan ide atau gagasan yang cemerlang, atau bahkan menciptakan penemuan yang out of the box.

Contohnya Pak Nadiem Makarim sang pendiri perusahaan teknologi yang terkenal dan digunakan oleh banyak masyarakat Indonesia hingga kini yaitu Gojek Indonesia. 

Siapa sangka perusahaan ojek berbasis teknologi ini berhasil hingga saat ini sudah tersedia layanannya di manca negara. 

 2. Connected 

 Connected, atau bisa kita sebut dengan saling berhubungan. Ya! Hal ini penting. Saling berinteraksi dan berkoneksi bisa kita jadikan sebagai salah satu keunggulan bagi generasi saat ini berkat adanya teknologi. 

Saat ini, koneksi jarak dekat ataupun jauh bisa sangat mudah untuk dijangkau dan sudah menjadi kegiatan sehari-hari masyarakat Indonesia. 

Dengan teknologi kita bisa mengenal adanya dunia maya, seperti sosial media yang membantu kelancaran hubungan antar individu, bahkan jika harus terpaut antar pulau. Namun, kemudahan kita dalam terkoneksi jarak jauh harus tetap menjadikan diri bijak dalam bersosialisasi. 

Pilihlah kata-kata yang baik, semakin luas koneksi, pasti semakin luas pandangan, ingatlah untuk tetap kokohkan tata krama sopan santun pada orang lain. Jangan sampai kita jadi bagian dari orang yang senantiasa berujar kebencian. 

Pun ketika berbeda pendapat, kita bisa bijaksana untuk saling menghargai dan mencari solusi, bukan justru kita malah saling membenci. Apalagi sampai menyebar fitnah atau hoax, big no ya Sobat ANSOS. 

  3. Collaborative 

 3 C yang ketiga adalah Collaaborative. Maksudnya adalah sudah saatnya anak muda saling berkolaborasi. Menciptakan karya yang mengharumkan nama bangsa. 

Contohnya kegiatan yang relate pada tahun 2020, yaitu bersama-sama membuat konten positif yang mengedukasi masyarakat Indonesia di sosial media baik Youtube, Instagram, Twitter, Tiktok, atau lainnya. 

Dengan kolaborasi yang unik dan memiliki pesan baik, kita bisa ikuti untuk menggunakan teknologi sebaik-baiknya. Mudah sekali, kan, jika menerapkan 3C tersebut secara bersama-sama? Mudah dong. 

Apalagi kita sebagai generasi masa kini, merupakan garda terdepan dalam memperjuangkan pertahanan dan kesatuan bangsa ini. 

Yuk kita buat inovasi-inovasi terbaik untuk Indonesia dengan memanfaatkan teknologi sebaik-baiknya, sehingga makna dari merdeka dalam genggaman kita bisa kita terapkan dengan baik. 

Buat solusi-solusi dari segala permasalahan bangsa yang ada, ambilah peran terbaik yang bisa kita berikan. Sejatinya setiap individu punya perannya masing-masing untuk mempersatukan Indonesia. 

Kemudian, jangan lupa ya Ansosers! Jangan lupa untuk berkolaborasi, karena bersama-sama akan menjadi indah dan luar biasa. 





Penulis: Layla Anggraini 
Penyunting : Nurul Fajriyah
Reading Time:

@ansos_pnj