Anjangsana Sosial

Sabtu, 19 Juni 2021

Kiat-kiat Berprestasi di Masa Pandemi
Juni 19, 20210 Comments

Hingga saat ini Indonesia masih diserang virus Corona atau Covid-19. Hal ini yang mengharuskan sekolah maupun perguruan tinggi melakukan pembelajaran jarak jauh dari rumah masing-masing secara daring. Berbulan-bulan kegiatan ini dilakukan tentu menimbulkan berbagai dampak bagi peserta didik, seperti muncul rasa bosan, susah berkonsetrasi, lelah, serta malas yang berujung tidak mengerti materi pelajaran. Oleh karena itu, berikut kiat-kiat yang dapat dilakukan oleh pelajar maupun mahasiswa supaya kegiatan PJJ bisa berjalan lebih efektif.


1. Tentukan Tempat Khusus untuk Belajar

Belajar di rumah seringkali terganggu oleh berbagai aktivitas lain apalagi jika dilakukan di tempat tidur, dapur, ataupun ruang keluarga. Demi menghindari distraksi dan kantuk, carilah tempat yang dikhususkan untuk belajar. Bisa dimana saja asal bukan di kasur, meja makan, atau sofa depan televisi.


2. Buat Diri Anda Nyaman dengan Tempat Belajar

Tempat yang dikhususkan untuk belajar haruslah nyaman. Rapikan dan beri sedikit pernak-pernik agar tidak cepat penat.


3. Tulis Rutinitas Harian untuk Persiapan, Belajar, dan Istirahat

Rutinitas setiap harinya harus dicatat dan ditentukan dengan jelas agar tidak saling mengganggu satu sama lain. Hal ini dilakukan supaya rutinitas untuk belajar dan beristirahat lebih terjadwal.


4. Buat Target Belajar dan Cobalah Lebih Aktif

Agar PJJ berjalan efektif, mulailah dengan menanyakan diri sendiri, 'Apa yang mau didapatkan dari setiap pelajaran?'. Hal ini bisa mendorong kamu untuk menentukan target pribadi untuk setiap bulan, pekan, bahkan harian sehingga pelajaran tetap dapat dipahami.


5. Belajar di Waktu Belajar, Bermain di Waktu Istirahat

'Jangan sampai belajar mengganggu waktu bermain'. Ungkapan ini harus Anda jadikan patokan agar target PJJ bisa tercapai tanpa harus menekan diri sendiri.


6. Hindari Multitasking

Mengerjakan banyak hal dalam satu waktu adalah hal yang patut dihindari karena sangat membebani otak dan tubuh. Sebaiknya focus dan selesaikan satu hal terlebih dahulu baru berpindah ke kegiatan lainnya.


7. Tidur dengan Nyenyak di Malam Hari

Tidur malam 7-8 jam adalah kegiatan yang penting agar tubuh selalu segar dan kamu tidak merasa kelelahan yang akan memicu depresi. Sebisa mungkin tidur sebelum larut malam supaya mendapat istarahat yang cukup.


8. Jangan Lupa Konsumsi Makanan Bergizi

Makanan bergizi memiliki pengaruh terhadap kesehatan. Pilihlah makanan bergizi baik supaya tubuh sehat dan tidak mudah lesu.


9. Jangan Lupa Berinteraksi dengan Teman dan Keluarga

Untuk menghilangkan stres dan mencari bantuan dalam PJJ, rajinlah berkontak dengan kawan-kawan satu kelas, satu geng, ataupun satu komunitas. Hal ini dilakukan untuk menekan tingkat stress yang bisa muncul saat terlalu sibuk belajar.


10. Jangan Lupa Olahraga

Olahraga wajib dilakukan agar tubuh terasa fit dan segar sehingga nyaman menjalani hari-hari di rumah. Selain itu, olah raga juga menghindarkan depresi. Lakukan aktivitas fisik yang menyenangkan, cari hal yang tidak memberatkan agar rutinitas olah raga tetap berlanjut terus.


11. Belajar dengan teman

Belajar bukanlah kegiatan yang harus dilakukan sendirian. Agar belajar lebih seru, kamu bisa memanfaatkan fasilitas yang dengan mudah bisa kita akses. Selain belajar menjadi asik dan tidak membosankan, kita akan mendapat ilmu tambahan yang mungkin kita enggak ngeh saat guru atau dosen menjelaskan.


12. Mendengarkan musik

Musik dapat meningkatkan kadar dopamin dan neutransmitter yang meningkatkan perasaan bahagia dan gembira. Beberapa penelitian menemukan fakta bahwa kita akan lebih cepat memecahkan soal pelajaran saat kita berada dalam kondisi hati yang bahagia. Musik pun dapat membantu mengatasi stres dan kecemasan karena musik membantu mengontrol hormon tubuh yang berperan atas perasaan stres dan kecemasan.



Itulah kiat-kiat yang bisa dilakukan pelajar dan mahasiswa dikala PJJ dari rumah. Dengan melakukan kiat-kiat diatas, diharapkan para pelajar dan mahasiswa bisa tetap enjoy dan efektif belajar meskipun harus beradaptasi dalam masa pandemi saat ini. 





Penulis : Meida Aminatu Zahra

Penyunting : Ananda Genta Pitaloka

 

 

 



Reading Time:

Selasa, 18 Mei 2021

Kartini Masa Kini Mendongeng Kepada Anak
Mei 18, 20210 Comments

Seperti yang kita ketahui, pada tanggal 21 April secara nasional kita bersukacita memperingati Hari Kartini. Hari kelahiran dari sosok wanita pemberani yang membuktikan bahwa perempuan memiliki hak yang setara dengan laki-laki dan mampu menghilangkan adanya ketimpangan sosial antara perempuan dan laki-laki pada saat itu. Saat di mana perempuan tidak memiliki kebebasan dalam menentukan pilihan dalam kehidupannya dan selalu terkekang oleh adanya mindset bahwa laki-laki lebih baik dibandingkan perempuan. 


Kartini ingin menunjukkan bahwa perempuan tidak hanya ‘konco wingking’, maksudnya perempuan bisa berperan lebih dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, terutama di bidang pendidikan. Perempuan bisa menentukan pilihan hidupnya tanpa paksaan orang lain, terutama orang tua dan perempuan juga bisa menempuh pendidikan setinggi-tingginya. Karena pendidikan dan perempuan merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dihindari sehingga antara kedua aspek tersebut harus saling melengkapi.


Pendidikan merupakan faktor yang sangat berpengaruh dalam memajukan calon penerus bangsa. Tanggung jawab ini bukan hanya dipikul oleh profesi seorang guru, pengajar ataupun pendidik namun semua lapisan masyarakat harus turut adil dalam mencerdaskan generasi selanjutnya.


Di era modern ini, sudah banyak kegiatan yang berorientasi pada kerelawanan atau volunteer. Salah satunya yaitu komunitas Rumah Dongeng Pelangi. Rumah Dongeng Pelangi adalah sebuah komunitas penggiat dongeng yang berdiri sejak tahun 2010, dipelopori oleh seorang perempuan hebat bernama Emmanuella Mila atau biasa dipanggil Mila. Rumah Dongeng Pelangi berlokasi di Taman Galaxi, Bekasi, Jawa Barat yang terdiri dari orang-orang dengan latar belakang profesi berbeda yang peduli dengan pendidikan anak melalui dongeng karakter. 


Emmanuelle Mila, pendiri Rumah Dongeng Pelangi


Mila melihat bahwa mendongeng bisa membuat anak lebih cepat berbicara dan memiliki hubungan yang dekat dengan orang tua. Kecintaannya terhadap dongeng dan kepeduliannya terhadap pendidikan anak kaum marginal, mendorong Mila untuk mendirikan Rumah Dongeng Pelangi. Dia ingin mendongeng dapat digunakan sebagai metode pendidikan anak dan membangun karakter anak. 


Perbedaan yang terlihat pada tumbuh kembang anak yang sering dibacakan dongeng dan anak yang jarang mendengar dongeng adalah anak yang sering mendengar dongeng akan memiliki kosakata dan bahasa yang jauh lebih beragam sehingga kemampuan komunikasi mereka jauh lebih baik. Pada saat mendongengkan anak, daya khayal anak menjadi lebih imajinatif dan kreatif apalagi pada saat masa keemasaan di usia 1000 hari pertama (Golden age).


Relawan dan anak kecil Rumah Dongeng Pelangi


Saat ini, Rumah Dongeng Pelangi masih aktif berkegiatan dengan total relawan mencapai 120-an. Meskipun kegiatan ini sedikit terkendala saat pandemi, namun tidak melunturkan semangat Mila dan teman-teman relawan di Rumah Dongeng Pelangi untuk terus berbagi dan melakukan kegiatan mendongeng secara virtual dengan aplikasi video conference seperti Zoom dan Google Meet ataupun Youtube.

Tak hanya dongeng saja, Mila dan para relawan Rumah Dongeng Pelangi melakukan pendampingan untuk Guru PAUD prasejahtera sejak 5 tahun lalu. Rumah Dongeng Pelangi mengajarkan guru-guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) untuk bisa mendongeng berbagai ragam cerita mulai dari cerita rakyat, fabel, hingga tematik seperti kehidupan di sekitar kita. Kegiatan pendampingan inilah yang sering dijadikan sebagai program CSR dari para sponsor Rumah Dongeng Pelangi.


Dalam wawancara dengan fimela.com, Mila menyampaikan pesan untuk perempuan hebat lainnya di luar sana, “Perempuan Indonesia adalah perempuan yang luar biasa memiliki kehebatan baik yang berkarya di rumah, freelancer, bekerja di kantor atau apa pun dan menjadi berkat sebagai makhluk yang luar biasa. Perempuan juga adalah ibu dan pendoa yang baik untuk keluarga, partner, dan teman. Jadi selalu bersyukur.” tuturnya.


Sosok Mila menjadi salah satu contoh wanita hebat di era industri 4.0 yang mampu menyeimbangkan antara kehidupannya sebagai ibu rumah tangga dan meneruskan perjuangan RA Kartini dalam memajukan pendidikan anak di Indonesia. Perjuangan dan pengorbanannya patut kita apresiasi dan banggakan karena telah membuktikan bahwa perempuan bisa mengajak dan membawa perubahan pada lingkungan sekitarnya. Selain itu, Mila memiliki tujuan yang sangat mulia yaitu membantu mencerdasakan calon penerus generasi bangsa terlebih kepada anak-anak kaum marginal yang mungkin tidak memiliki kesempatan mengenyam pendidikan yang merupakan pondasi dasar dalam kehidupan.




Penulis : Afifah Az Zahra

Penyunting : Ananda Genta Pitaloka



Reading Time:

Kamis, 22 April 2021

Sepintas Realitas Belajar Tanpa Batas
April 22, 2021 2 Comments

Keterbatasan yang dihadapi saat pandemi menjadi sebuah motivasi untuk membuat dan menerapkan inovasi pembelajaran jarak jauh yang tidak mengenal batas ruang dan waktu, tanpa mengurangi nilai efektivitas. Lantas, bagaimana realita yang terjadi?


       Covid-19 yang mewabah di seluruh dunia, khususnya Indonesia belum juga mereda. Banyak perubahan tatanan kehidupan terjadi. Salah satunya adalah aspek pendidikan, perubahan proses belajar mengajar tatap muka secara langsung menjadi daring atau biasa disebut dengan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), yang kini hampir diterapkan di seluruh instansi pendidikan. Sudah menjadi rahasia umum bahwa wacana peralihan sementara aktivitas belajar mengajar secara luring menjadi daring hanya berlangsung selama dua minggu. Namun, siapa sangka peralihan sistem luring ke daring ini telah berjalan setahun lamanya? 

         Bukan suatu perkara yang mudah bagi para pengajar dan peserta didik yang belum terbiasa dalam penggunaan teknologi untuk terjun ke sistem belajar daring ini. Dibutuhkan waktu untuk bisa beradaptasi. Perkembangan teknologi informasi yang semakin canggih menjadi tantangan bagi pemerintah dalam penyesuaian kurikulum dan mekanisme pelaksanaan PJJ.


Berikut keuntungan pembelajaran jarak jauh bagi peserta didik :


Pertama, peserta didik dapat belajar di mana saja dan kapan saja. Pertemuan tatap muka secara daring dengan para pengajar dapat melalui platform video conference seperti Google Meet, Zoom, Microsoft Teams serta aplikasi chat seperti Whatsapp dan Line. Peserta didik melakukan pembelajaran di rumah sebagai bentuk menaati himbauan dari pemerintah untuk memutus mata rantai penyebaran virus Covid-19.

Kedua, keleluasaan dalam waktu pembelajaran membantu peserta didik untuk mengatur skala prioritas dalam kesehariannya. Gawai yang semula hanya fasilitas untuk hiburan, seperti bermain game atau sekadar scrolling sosial media, sekarang beralih fungsi menjadi lebih produktif, bermanfaat dan mencerdaskan. Peserta didik dituntut untuk belajar bertanggung jawab dan menempatkan pembelajaran jarak jauh sebagai prioritas utamanya. Oleh sebab itu, pembelajaran non akademik seperti belajar bertanggung jawab dan manajemen waktu, sama pentingnya dengan pembelajaran akademik. 


Selain keuntungan, berikut kekurangan pembelajaran jarak jauh bagi peserta didik :


Pertama, durasi jam belajar yang lebih singkat dibandingkan dengan aktivitas tatap muka secara luring. Permasalahan jaringan internet dan keterbatasan kuota internet merupakan salah satu pemicu pengurangan waktu belajar. Pertemuan yang singkat mengakibatkan para pengajar tidak leluasa untuk menjelaskan materi. Terlebih jika pelajaran tersebut berkaitan dengan perhitungan yang memerlukan praktek langsung, yang kurang optimal disampaikan secara daring. Bahkan seringkali terjadi pemberian tugas tanpa melakukan penjelasan terlebih dahulu. Hal tersebut secara tidak langsung mengharuskan peserta didik untuk mandiri dalam belajar. Tidak hanya mengandalkan penjelasan dan jawaban dari para pengajar yang berkaitan, tetapi mereka dapat menelusuri dan mempelajari lebih lanjut dari berbagai sumber terkait materi yang kurang dikuasai.

Kedua, distraksi menjadi salah satu rintangan besar bagi peserta didik untuk mempertahankan konsentrasinya. Tidak dapat dipungkiri bahwa memandangi layar laptop dan gawai secara terus menerus membuat peserta didik jenuh dan bosan. Pada akhirnya, konsentrasi mereka buyar dan mencari aktivitas peralihan lain dibanding mengikuti pembelajaran. Acap kali terjadi, sekadar mengikuti google meet/zoom sebagai bentuk kehadiran, namun tidak memperhatikan. Lebih parahnya lagi, peserta didik tersebut tertidur, berkeliaran di rumah, bahkan bepergian keluar rumah.

Ketiga, berdasarkan survei KPAI, belajar di rumah selama pandemi membuat anak mengalami stres dan lelah. Peran pendampingan dari orang tua/wali sangat berpengaruh. Namun, tidak semua bisa mengawasi secara langsung saat jam belajar berlangsung, disebabkan oleh bentrok dengan jam kerja atau kesibukan lain. Tetapi, sebaiknya orang tua/wali tetap memberikan afeksi bagi anak-anaknya. Sesederhana bertanya di akhir hari, seperti menanyakan apa aja yang telah dipelajari, kesulitan apa yang sedang dihadapi, atau memberikan bantuan tuntunan belajar. Dengan demikian, perlunya suplai kasih sayang, dukungan dan perhatian yang cukup dari orang tua peserta didik untuk mendukung kelangsungan belajar tanpa batas yang efektif, seperti kegiatan belajar mengajar di sekolah sebelum pandemi melanda.



Anjangsana Sosial

Salam Ceria Dunia Pendidikan Indonesia





Dokumentasi : unsplash

Penulis : Azka Nurfaiza

Penyunting : Ananda Genta Pitaloka

Reading Time:

@ansos_pnj